Apa yang saya lihat dari sudut pandang yang tidak kritis. Saya tidak menyuruh Anda untuk menggunakan, memakai, menanam, atau apapun. Tujuan hanya satu. Untuk KESEHATAN.
Manfaat
Daun Ganja
1. Kanker
Daun
ganja adalah salah satu obat penyembuh kanker. Cara kerjanya adalah dengan
mengaktifkan molekul tertentu yang terdapat dalam tubuh seperti cannabinoid
receptor, yang pada akhirnya akan menghentikan kiriman sinyal rasa sakit ke
otak.
2. Epilepsi
Sebuah
senyawa dalam tanaman ganja yaitu senyawa cannabidiol ganja sangat efektif
untuk meredakan nyeri yang terjadi di otak, yang biasanya menjadi pemicu gejala
kejang pada pasien epilepsi. Senyawa ini dibantu oleh senyawa lain dalam
tanaman ganja juga, yakni senyawa GWP42006.
3. Penghilang Rasa Sakit
Sudah
menjadi rahasia umum kalau daun ganja memiliki pemutus sinyal rasa sakit yang
dikirim ke otak. Ini berarti daun ganja bisa menjadi obat pati rasa.
4. Obat Penyakit Tertentu
Daun
ganja bisa menyembuhkan penyakit arthritis, sakit kepala, parkinson,
glaukoma, hipertensi, alzheimer, dan lainnya.
5. Manfaat Lain Daun Ganja (kutipan : detik.com)
a.
Efektif
untuk penggunaan otak kanan
b.
Bermanfaat
untuk membangkitkan Energi Alam Bawah Sadar
c.
Bermanfaat
untuk membuka rahasia kekuatan alam bawah sadar yang maha dahsyat
Di
beberapa negara tumbuhan ini tergolong narkotika,
walau tidak terbukti bahwa pemakainya menjadi kecanduan, berbeda dengan
obat-obatan terlarang jenis lain yang menggunakan bahan-bahan sintetik atau
semi sintetik dan merusak sel-sel otak, yang sudah sangat jelas bahayanya bagi umat manusia.[butuh rujukan] Di
antara pengguna ganja, beragam efek yang dihasilkan, terutama euforia (rasa
gembira) yang berlebihan serta hilangnya konsentrasi untuk berpikir di antara
para pengguna tertentu.
Efek negatif secara umum
adalah pengguna akan menjadi malas dan otak akan lamban dalam berpikir.[butuh rujukan] Namun,
hal ini masih menjadi kontroversi[butuh rujukan],
karena tidak sepenuhnya disepakati oleh beberapa kelompok tertentu yang
mendukung medical marijuana dan marijuana pada umumnya. Selain
diklaim sebagai pereda rasa sakit, dan pengobatan untuk penyakit tertentu (termasuk
kanker), banyak juga pihak yang menyatakan adanya lonjakan kreativitas dalam
berpikir serta dalam berkarya (terutama pada para seniman dan musisi).
Berdasarkan penelitian
terakhir, hal ini (lonjakan kreativitas), juga dipengaruhi oleh jenis ganja yang
digunakan. Salah satu jenis ganja yang dianggap membantu kreativitas adalah
hasil silangan modern "Cannabis indica" yang berasal dari India[butuh rujukan]dengan
"Cannabis sativa" dari Barat[butuh rujukan].
Jenis ganja silangan inilah yang tumbuh di Indonesia.[butuh rujukan]
Efek yang dihasilkan juga beragam terhadap setiap individu. Segolongan
tertentu ada yang merasakan efek yang membuat mereka menjadi malas, sementara
ada kelompok yang menjadi aktif, terutama dalam berpikir kreatif (bukan aktif
secara fisik seperti efek yang dihasilkan metamfetamin).
Ganja, hingga detik ini, tidak pernah terbukti sebagai penyebab kematian maupun
kecanduan. Bahkan, pada masa lalu dianggap sebagai tanaman luar biasa, di mana
hampir semua unsur yang ada padanya dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan.[butuh rujukan] Hal
ini sangat bertolak belakang dan berbeda dengan efek yang dihasilkan oleh
obat-obatan terlarang dan alkohol, yang menyebabkan penggunanya menjadi kecanduan hingga
tersiksa secara fisik, dan bahkan berbuat kekerasan maupun penipuan (aksi
kriminal) untuk mendapatkan obat-obatan kimia buatan manusia itu.
Dalam penelitian ilmiah dengan metode systematic review yang membandingkan
efektifitas ganja sebagai obat antiemetic didapatkan hasil ganja memang efektif
sebagai obat antiemetic dibanding prochlorperazine, metoclopramide,
chlorpromazine, thiethylperazine, haloperidol, domperidone, atau alizapride,
tetapi pengunaannya sangat dibatasi dosisnya, karena sejumlah pasien mengalami
gejala efek psikotropika dari ganja yang sangat berbahaya seperti pusing,
depresi, halusinasi, paranoia, dan juga arterial hypotension
Kontroversi
Di beberapa negara tumbuhan ini tergolong narkotika,
walau tidak terbukti bahwa pemakainya menjadi kecanduan, berbeda dengan
obat-obatan terlarang jenis lain yang menggunakan bahan-bahan sintetik atau
semi sintetik dan merusak sel-sel otak, yang sudah sangat jelas bahayanya bagi umat manusia.[rujukan?] Di
antara pengguna ganja, beragam efek yang dihasilkan, terutama euforia (rasa
gembira) yang berlebihan serta hilangnya konsentrasi untuk berpikir di antara
para pengguna tertentu.
Efek negatif secara umum adalah pengguna akan menjadi malas
dan otak akan lamban dalam berpikir.[rujukan?] Namun,
hal ini masih menjadi kontroversi[rujukan?],
karena tidak sepenuhnya disepakati oleh beberapa kelompok tertentu yang
mendukung medical marijuana dan marijuana pada umumnya. Selain
diklaim sebagai pereda rasa sakit, dan pengobatan untuk penyakit tertentu
(termasuk kanker), banyak juga pihak yang menyatakan adanya lonjakan
kreativitas dalam berpikir serta dalam berkarya (terutama pada para seniman dan
musisi).
Berdasarkan penelitian terakhir, hal ini (lonjakan
kreativitas), juga dipengaruhi oleh jenis ganja yang digunakan. Salah satu
jenis ganja yang dianggap membantu kreativitas adalah hasil silangan modern
"Cannabis indica" yang berasal dari India[rujukan?]dengan
"Cannabis sativa" dari Barat[rujukan?]. Jenis
ganja silangan inilah yang tumbuh di Indonesia.[rujukan?]
Efek yang dihasilkan juga beragam terhadap setiap individu.
Segolongan tertentu ada yang merasakan efek yang membuat mereka menjadi malas,
sementara ada kelompok yang menjadi aktif, terutama dalam berfikir kreatif
(bukan aktif secara fisik seperti efek yang dihasilkan metamfetamin).
Ganja, hingga detik ini, tidak pernah terbukti sebagai penyebab kematian maupun
kecanduan. Bahkan, di masa lalu dianggap sebagai tanaman luar biasa, di mana
hampir semua unsur yang ada padanya dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan.[rujukan?] Hal
ini sangat bertolak belakang dan berbeda dengan efek yang dihasilkan oleh
obat-obatan terlarang dan alkohol, yang menyebabkan penggunanya menjadi kecanduan hingga
tersiksa secara fisik, dan bahkan berbuat kekerasan maupun penipuan (aksi
kriminal) untuk mendapatkan obat-obatan kimia buatan manusia itu.
Dalam penelitian ilmiah dengan metode systematic review yang
membandingkan efektifitas ganja sebagai obat antiemetic didapatkan hasil ganja
memang efektif sebagai obat antiemetic dibanding prochlorperazine,
metoclopramide, chlorpromazine, thiethylperazine, haloperidol, domperidone,
atau alizapride, tetapi pengunaannya sangat dibatasi dosisnya, karena sejumlah
pasien mengalami gejala efek psikotropika dari ganja yang sangat berbahaya
seperti pusing, depresi, halusinasi, paranoia, dan juga arterial hypotension
a.
Kehilangan
minat dan semangat untuk melakukan kegiatan,
b.
Kehilangan tenaga dan kebosanan.
c.
Kerusakan memori jangka pendek, daya pikir
logikal dan koordinasi gerakan badan.
d.
Dorongan seks menurun.
e.
Jumlah sperma berkurang (pada pria), siklus
menstruasi tidak teratur (pada wanita).
f.
Gejala gangguan kejiwaan yang berat.
g.
Kerusakan sistem kekebalan tubuh.
h.
Addiction.
Ganja menimbulkan ketergantungan
mental dan mengakibatkan kecanduan secara mental.
i.
Mengendarai kendaraan bermotor
Ganja mempengaruhi keterampilan
motorik dan koordinasi, penglihatan dan kemampuan untuk mengukur jarak dan
kecepatan. Mengendarai mobil atau motor dengan orang yang sedang “teler” karena
ganja adalah sangat berbahaya.
j.
Daya
ingat dan belajar
Ganja mempengaruhi kemampuan mengingat.
THC akan mengganggu proses berpikir terutama yang membutuhkan logika. Ganja
juga dapat mengakibatkan kesulitan belajar, walaupun pelajaran/tugas yang
sederhana, sehingga seseorang dapat berprestasi buruk dalam pekerjaan atau
belajar.
Bahaya
Merokok
1. Kanker
Merokok
dapat menyebabkan sekitar 90% kematian akibat kanker paru-paru pada pria serta
80% pada wanita. Resiko kematian karena faktor kanker paru-paru dapat 23 kali
lebih tinggi pada pria perokok dan 13 kali lebih tinggi pada wanita yang
merokok dibandingkan pada mereka yang bukan tidak merokok.
Pada
sebuah riset menunjukkan bahwa bukan perokok yang tinggal bersama perokok
memiliki resiko 24% lebih tinggi untuk terkena penyakit kanker paru-paru
dibandingkan bukan perokok pada umumnya. Bahaya merokok juga dapat menyebabkan
kanker kantung kencing, ginjal, faring, esopagus, rongga mulut, serviks, pita
suara, pankreas, dan perut.
2. Gangguan
pernafasan
Bahaya
merokok dapat meningkatkan resiko kematian karena penyakit paru-paru yang
kronis sampai 10 kali lipat. Sekitar 90% kematian karena penyakit paru-paru kronis
disebabkan karena merokok.
3. Gangguan
janin
Kebiasaan merokok juga
akan berdampak buruk terhadap kesehatan reproduksi dan janin yang terdapat
dalam kandungan, termasuk kemandulan, keguguran, kematian janin, bayi lahir
dengan berat badan rendah, serta sindrom kematian mendadak bayi.
4.
Penyakit jantung
Merokok
dapat menimbulkan aterosklerosis atau terjadi pengerasan pada pembuluh darah.
Kondisi seperti ini merupakan penumpukan zat lemak pada arteri, lemak dan plak
memblok aliran darah serta dapat membuat penyempitan pembuluh darah. Hal ini
yang dapat menyebabkan penyakit jantung.
Jantung
dipaksa untuk bekerja lebih keras dan tekanan ekstra yang pada akhirnya
menyebabkan angina atau nyeri dada. Jika salah satu arteri atau bahkan lebih
menjadi benar-benar terblokir, serangan jantung mungkin dapat terjadi.
Semakin banyak rokok yang telah dihisap dan semakin lama seseorang tersebut merokok, semakin besar pula kesempatan untuk mengembangkan penyakit jantung atau stroke.
Semakin banyak rokok yang telah dihisap dan semakin lama seseorang tersebut merokok, semakin besar pula kesempatan untuk mengembangkan penyakit jantung atau stroke.
5. Penyakit
paru-paru
Risiko
terkena penyakit seperti pneumonia, emfisema, atau bronkitis kronis dapat
meningkat karena kebiasaan merokok. Penyakit ini disebut sebagai penyakit paru
obstruktif kronik (PPOK).
Penyakit
paru-paru tersebut dapat berlangsung dan bertambah buruk seiring dari waktu ke
waktu sampai orang tersebut akhirnya meninggal karena kondisi tersebut. Menurut American Cancer Society,
orang yang telah berumur 40 tahun dapat menderita emfisema atau bronkitis,
tetapi dengan gejala yang jauh lebih buruk pada kemudian hari.
6. Diabetes
Menurut
Cleveland Clinic, kebiasaan merokok dapat meningkatkan resiko terkena diabetes. Bahaya rokok juga menyebabkan komplikasi dari
diabetes, seperti penyakit jantung, penyakit mata, stroke, penyakit ginjal, penyakit pembuluh darah,
dan masalah kaki.
7. Menyebabkan
kebutaan
Bahaya
merokok dapat meningkatkan resiko degenerasi makula yaitu penyebab kebutaan
yang dialami pada orang tua. Dalam studi yg diterbitkan 'Archives of
Ophthalmology' orang yang merokok 4 kali lebih mungkin dibandingkan dengan
orang-orang yang bukan perokok untuk mengembangkan degenerasi makula, yangg
merusak makula, pusat retina, serta dapat menghancurkan penglihatan sentral
tajam.
8. Penyakit
mulut
Penyakit
mulut yang disebabkan karena rokok antara lain seperti kanker mulut, kanker
leher, penyakit gigi, dan nafas.
9. Impotensi
Rokok
adalah faktor resiko utama penyakit pembuluh darah perifer yang akan
mempersempit pembuluh darah pembawa darah ke seluruh tubuh. Pembuluh darah pada
alat reproduksi pria kemungkinan dapat terpengaruh karena merupakan pembuluh
darah yang berukuran kecil dan dapat mengakibatkan disfungsi impoten.
Kenapa
yang ada manfaatnya di Ilegalkan sementara yang tidak bermanfaat di Legalkan?
Sampai saat ini saya tidak mengerti kenapa Ganja di larang di Indonesia. Mungkin
kalian binngun karena saya menuliskan Bahaya Merokok, agar anda bisa bandingkan
Antara ROKOK dan GANJA. Saya Menonton tapi tidak Menikmati.
Ganja
merupakan Daun yang sudah pasti dari Alam. Setahu saya, taka da ciptaan Tuhan
yang sia-sia termasuk Ganja. Ganja terlalu disingkirkan dan diasumsi negative oleh
pemerintah. Sebab itu Negara kita tidak maju.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar